Langsung ke konten utama

Unggulan

Punya Anak

Well, meskipun aku (merasa) sudah siap untuk punya anak bahkan sejak sebelum menikah, agaknya gamang juga ketika sekarang sedang mengandung janin 9 minggu. Sampai beberapa hari yang lalu. Aku nangis sesegukan karena teringat sama salah satu jama'ah masjid yang sekarang hidup sendiri pasca suaminya meninggal dunia dan mereka tidak memiliki anak. Walau tetap Allah jua lah yang menakdirkan kita diamanahkan anak atau tidak, tapi perasaanku melihat para janda yang tinggal seorang diri ini jadi kalut. Pasti sepi. Sendiri. Butuh teman. Aku yang juga dulu pernah punya tetangga dekat yang sama persis kondisinya dengan si ibu. Jadi, tahu persis bagaimana keseharian mereka. Sejak saat itu, aku sadar bahwa punya anak itu karunia yang sangat besar dari Allah. Pantaslah memang anak ini disebut sebagai qurrata a'yun (penyejuk mata) bagi orang tuanya. Investasi akhirat. Setidaknya, ada yang bisa dihubungi kalau kita kesepian di masa tua nanti. Makin degdegan menuju HPL 27 Oktober

Sebuah Perjalanan (3)

Melanjutkan cerita saya sebelumnya, kini episode ke-3 (eciyeee, episode ya kayak sinetron) akan saya ceritakan.

Setelah 12 jam lebih di Oman, akhirnya kira-kira pukul 16.00 waktu Oman, kita siap-siap untuk berangkat ke Arab Saudi. Yes, the final flight. Ketika itu, di Ruby Hotel tempat kita menginap, ada juga rombongan jama'ah umroh dari travel lain, dari Kalimantan kalo ga salah. Mereka juga harus keluar di waktu yang sama. Dan ketika akan keluar hotel, mereka telah berpakaian umroh. Itu artinya, nantinya mereka akan berniat umroh di atas pesawat. Miqatnya di Yalamlam, 10 menit sebelum mendarat di bandara King Abdul Aziz. Dan nantinya, rombongan ini akan ke Makkah langsung. Sedangkan untuk rombongan saya, kita ke Madinah dulu beberapa hari, baru ke Makkah.

Tiba di bandara Muscat, kita harus nunggu lagi sampai jam 21.00-an waktu Oman, karena pesawatnya take off jam segitu. Di ruang tunggu sebelum berangkat, kita sampai ngantuk-ngantuk. Liat nih muka Babeh.
muka ngantuk
Sampai akhirnya kita berangkat ke Jeddah naik Oman Air lagi. Lama perjalanannya kira-kira 3 jam. Kata mbak pramugarinya yang cakep kita nyampe tengah malem kira-kira jam 00.00 waktu Saudi Arabia. Wohooo! :)


13 Februari 2015

Finally... Alhamdulillah. 
Sampai juga di bandara Jeddah. Tapi kita harus nunggu lagi. Cek passport dan visa lagi. Untuk wanitanya cukup cepat. Tapi pengecekan untuk yang pria, lama sekali. 

Akhirnya, kira-kira jam 2, selesai juga pengecekannya. Dan kita langsung cus naik bis ke Madinah. Kata Mamak, perjalanan ke Madinah itu 5 atau 6 jam-an kalo ga salah. Dan hampir di seluruh perjalanan saya tidur. Ya, ngantuk berat. Tapi untuk Subuh kita berhenti di sebuah mesjid yang rame buanget dengan dingin yang benar-benar menusuk.

Selesai sholat, lanjut lagi naik bisnya. Dan saya terbangun setelah matahari terbit. Karena selama ini malem jadi ga keliatan apa-apa. Yang saya liat pertama kali dari kaca bis adalah jalanan yang ga ada pohonnya sama sekali. Artinya ini beneran udah di Arab, Cuy. Ga berhenti ucapin syukur. 
yes, no tree but cold
Ketika di perjalanan mau ke Madinah ini, saya inget epilog di buku Open Your Heart, Follow Your Prophet. Saya bener-bener ngerasa berada di situasi yang sama dengan apa yang diceritakan di buku itu. And I cried. Seolah Rasulullah begitu dekat.

Lalu kita berhenti lagi untuk sarapan di pinggir jalan.

Dan akhirnya, alhamdulillah sampai juga di kota Madinah. Madinah Al-Munawwarah.
Kita menginap di sebuah hotel bernama Al.. Al.. Al Faris atau apa gitu, saya lupa. Kali ini saya sekamar dengan Mamiiii (pastinya), Ida dan mamaknya, dan nenek baik hati, Nenek Saidah. 

Lalu Dzuhur tiba, dan inilah pertama kalinya saya melihat masjid Nabawi, masjidnya Rasulullah di Madinah. Aaaah~ Syukr, syukr. Alhamdulillah. 

Yippee!
Oke, ntar disambung lagi ya. 
Tunggu episode selanjutnya! :)



Salam Semangat, Readers :)

Ida Mayasari

Komentar

Postingan Populer