Langsung ke konten utama

Unggulan

Punya Anak

Well, meskipun aku (merasa) sudah siap untuk punya anak bahkan sejak sebelum menikah, agaknya gamang juga ketika sekarang sedang mengandung janin 9 minggu. Sampai beberapa hari yang lalu. Aku nangis sesegukan karena teringat sama salah satu jama'ah masjid yang sekarang hidup sendiri pasca suaminya meninggal dunia dan mereka tidak memiliki anak. Walau tetap Allah jua lah yang menakdirkan kita diamanahkan anak atau tidak, tapi perasaanku melihat para janda yang tinggal seorang diri ini jadi kalut. Pasti sepi. Sendiri. Butuh teman. Aku yang juga dulu pernah punya tetangga dekat yang sama persis kondisinya dengan si ibu. Jadi, tahu persis bagaimana keseharian mereka. Sejak saat itu, aku sadar bahwa punya anak itu karunia yang sangat besar dari Allah. Pantaslah memang anak ini disebut sebagai qurrata a'yun (penyejuk mata) bagi orang tuanya. Investasi akhirat. Setidaknya, ada yang bisa dihubungi kalau kita kesepian di masa tua nanti. Makin degdegan menuju HPL 27 Oktober

si Kecil dan si Pencuri

Aku menjadi kelabu melihat sesosok wanita memasuki pintu kelas kami yang riuh. Kami semua bergumam pasti ini akan menjadi dua les yang membosankan bersama wanita ini. Di tengah celotehannya, muncul seorang lelaki kecil menghampirinya. Wajahnya oval, rambutnya lurus dan lebat, dengan sepasang lensa tergantung di depan matanya.

Aku terpana. Wajahnya begitu familiar di benakku. Aku seperti mengenalinya. Ia melangkah santai menuju meja guru dan berdiri di samping ibunya. Ah, dia memang tak asing lagi. Kuputar slide wajah-wajah orang yang kukenal di pikiranku. Slide tersebut berhenti pada sosok lelaki kurus berkacamata yang sedang duduk di bangku kelas sosial di sekolah yang sama denganku. Dia yang dari dulu sampai sekarang masih mencuri titik paling sensitif dari tubuh kecil ini.

Lelaki kecil itu lincah memainkan telepon genggamnya. Aku masih tersenyum riang melihat kelakuannya. Keidentikan "Si Kecil" dan "Si Pencuri" itu membuatku terbang selama dua les pelajaran tersebut. Titik paling sensitifku berdehem lalu berbisik pelan, "Sering-sering saja ikut ibumu mengajar, Adik kecil."




Ida Mayasari :)

Komentar

Posting Komentar

jangan sungkan untuk berkomentar ya :)

Postingan Populer